Showing posts with label Artikel. Show all posts

Judul di atas mungkin sudah biasa kita baca bahkan kita dengar , lalu timbul pertanyaan apa dan dimana akarnya ? kita boleh mengatakan Edi Tansil koruptor no 1 diindonesia dan tak salah menyatakan gayus tambunan seorang mafia pajak , serta sederet anggota legislative terlibat kasus korupsi.
Banyak kalangan berharap agar para koruptor dihukum setimpal dengan perbuatannya naasnya lagi ada wacana untuk menghukum koruptor dengan hukuman mati , alih-alih terbentur dengan HAM (Hak asasi Manusia) dan faham agama yang tak menghendaki hukum mati .
Jika kita ingin berfikir lebih cerdas tanpa mengabaikan hal-hal diatas , alangkah bijaknya jika bersama-sama mengkaji lebih mendalam soal KORUPSI , secara harfiah korupsi berarti RUSAK , apa yang rusak ? jawabannya sederhana POLA FIKIR ! kita awali dengan sebuah contoh sederhana tentang pola fikir ,ketika kita meminta tanda tangan untuk pembuatan surat-surat didesa selalu ada pertanyaan …..berapa biayanya ? padahal belum ada ketentuan yang jelas bahwa sebuah tanda tangan patut dihargai dengan uang , ada yang berdalih harus membayar administrasi. Padahal biaya administrasi jelas-jelas sudah dianggarkan dalam APBDes dalam bentuk ATK , lalu administrasi macam apa yang harus dibayar ? dalam kasus ini kita sebagai terlayan dan petugas desa sebagai pelayan selayaknya mengubah mainset kita soal bayar membayar , jika tidak ada ketentuan jelas soal tarif TANDA TANGAN maka haram hukumnya dan jika dilakukan itu adalah tindak pidana korupsi.Johan

Mungkin itu pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran kita saat kita akan memulai mencoba untuk menulis, baik diatas kertas yang sudah jauh sebelumnya kita sediakan lengkap dengan pulpen, atau mungkin menggunakan komputer yang lebih mudah dengan hanya menekan tombol-tombol keyboard. Saat akan memulai, pikiran jadi blank, ini juga sering saya alami, hingga akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Membuat sebuah tulisan atau laporan tentang sesuatu yang ada disekitar kita bisa dikatakan tidaklah begitu sulit. Intinya adalah keinginan kita untuk melakukannya, dengan motivasi yang tinggi yang bisa kita tanamkan dalam diri kita bahwa semua butuh proses. Tidak mungkin kupu-kupu akan bisa terbang kesana-kemari tanpa harus melalui proses metamorfosis dari ulat, kepompong, dan akhirnya bisa terbang. Begitu juga untuk membuat sebuah tulisan yang bagus, kita butuh waktu yang tidaklah tidak sedikit.
Setiap hari tanpa kita sadari, kita telah melakukan suatu kegiatan yang bisa dituangkan dalam sebuah tulisan. Ini juga yang diungkapkan oleh penggagas Kampung Media Abu macel dalam setiap pertemuan yang pernah saya ikuti, bahkan saat kita bingung waktu akan memulai menulispun bisa dituangkan dalam sebuah tulisan.
Bisa dibayangkan, apa yang terjadi ketika kita sedang “ngerumpi” bersama teman-teman di pinggir jalan atau di rumah teman. Ngerumpi tentang gejolak yang ada di kampung, memperdebatkan kadus yang mau menag sendiri, atau suatu yang dianggap asik untuk dibicarakan. Namun sebagai seorang jurnalis tidak berarti harus menyusun sebuah tulisan yang tidak layak diketahui/dikonsumsi oleh orang banyak. Dalam sebuah tulisan harus mengandung nilai-nilai yang patut untuk direnungkan, dipelajari, ditiru, dan ditarik hikmahnya sebagai pelajaran hidup.
Kalau begitu,,,apa bedanya dengan “ngeerumpi” ? Jelas beda sekali. Ngerumpi di pinggir jalan sering sekali tidak memiliki  tujuan yang pasti, hanya sekedar iseng aja. Beda dengan laporan jurnalistik yang memuat informasi yang mengandung nilai-nilai. Misalkan saja kita sedang jengkel terhadap si A, apakah kita harus melaporkan ke surat kabar. Mana mungkin redakturnya mau memuatnya.
Lalu yang bagaimana kriteria yang yang layak untuk dimuat sebagai “nilai berita” (news value) ? Ragamnya banyak sekali, seperti :
  1.  Aktualitas, sesuatu yang sedang hangat-hangatnya menjadi buah bibir/perbincangan masyarakat.
  2. Proximitas, sesuatu yang berhubungan dengan nilai-nilai social yang bisa dicerna oleh sasaran (pembaca). 
  3. Human Intrerest, masalah yang menyentuh ruang batin kemanusiaan (haru,syukur,kebanggaan, informasi yang berguna dan membangun semangat,dsb). 
  4. Kelangkaan, sesuatu yang langka keberadaannya atau suatu yang unik. 

Aktifitas menulis merupaka upaya memindah apa yang dilihat, dialami, dan dipikirkan ke dalam kata-kata (bahasa) baik itu menulis laporan jurnalistik,opini,narasi, maupun karangan ilmiah lainnya. Setiap manusia sesungguhnya diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa berupa kemampuan berbahasa untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain. Entah kapan mulanya seorang bocah bisa berbicara dan bisa mengerti dengan jelas. Tiga tahun atau empat tahunkah…Entah bagaimana dia belajar kata-kata yang diucapkan.
Itulah salah satu misteri kehidupan yang membuat kita percaya bahwa setiap manusia mempunyai potensi mampu menyampaikan maksud dengan berbahasa.
Tentu saja, karena bahasa telah menjadi salah satu bentuk kebudayaan manusia, maka keberadaannya dikemaas dalam norma-norma sesuai dengan kesepakatan masyarakat di sekelilingnya. Dalam dunia penulisanpun terdapat norma-norma yang mengatur bagaimana menggunakan huruf capital, menggunakan titik koma, dan lain sebagainya. Hal tersebut pasti harus dikuasai melalui proses belajar dan latihan. Belajar dan latihanpun tak cukup hanya satu ataupun dua kali saja, melainkan mesti harus terus menerus dan dengan disiplin yang tinggi. Dan yang tak kalah penting dalam belajar dan berlatih adalah adanya pihak lain yang bisa member tahu hal-hal yang benar maupun salah, tepat dan kurang tepatnya, maupun dangkal dan dalamnya.
Selain itu juga, hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses menulis adalah sikap mental yang belum total. Artinya belajar apa saja jika dilakukan setengah-setengah tentu hasilnya tidak optimal. Kemampuan menulis bisa diibaratkan seperti pisau, jika jarang dipakai maka akan cepat berkarat, dan sebaliknya semakin sering dipakai akan makin tajam.
Untuk menghasilkan tulisan yang baik juga peerlunya waktu yang dikhususkan untuk menulis, mungkin pagi hari, siang, sore, malam, atau pada jam-jam istirahat. Tegaasnya ada pola disiplin. Rutinitas kelak akan menjadi suatu kebiasaan, sehingga menulis tidak sekedar iseng saja, melainkan menjadi kebutuhan sehari-hari. Tamrin
Welcome to My Blog

- Copyright © TBM Al-Hikmah -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -