Showing posts with label cerpen. Show all posts
Sinopsis
Tentu tidak mudah menceritakan bagaimana penderitaan yang dirasakan, besarnya rasa takut yang saat ini menghantui setiap tidurnya, banyaknya pikiran dan rasa kasihan kepada keluarganya yang terus memperjuangkannya, baik materi maupun rohani untuk biaya dan kesembuhannya. Rasa menyesal dalam dirinya juga seringkali muncul karena belum bisa memberikan yang terbaik bagi orang orang yang ia cintai. Mungkin jika kalian mendengarnya secara langsung dari para penderita kanker, kalian akan merasa bersyukur dengan kehidupan yang kalian jalani saat ini.
10 kisah terbaik dan 10 kisah nyata ini diharapkan akan memberikan kisah inspiratif untuk kita semua, terutama para pejuang kanker. Semoga juga dapat memberikan motivasi bagi para pembaca.
I Survived because My Life is so Preciouse!
Sinopsis
Seorang manager sedang melakukan wawancara kerja dengan wawan, seorang pelamar. Sang manajer heran karena Wawan meminta gaji awal yang begitu tinggi.
Tanya sang manajer, "Kamu berum punya pengalaman kerja, tapi kenapa kamu minta gaji yang sangat besar?"
Jawab Wawan,"Justu ituPak, pekerjaan saya jadi sangat berat karena saya tidak tahu apa-apa."
Lebih baik banyak bertanya kepada mereka yang lebih ahli daripada melakukan kesalahan bodoh yang harus dibayar mahal. Itulah pesan yang hendak disampaikan oleh cerita humor diatas. Akan ada lebih banyak lagi humor dalam buku ini yang bisa membuat Anda tertawa terbahak. Tak hanya itu saja, Anda juga diajak untuk menggali inspirasi dan motivasi dari sisi yang berbeda. Selamat Membaca!
Sinopsis
Waktu bisa berubah, cuaca mudah berubah, apakah cinta juga bisa berubah?
Cerah, gadis energik yang tak pernah menangis, hanya punya satu impian : melihat biru.
Sampai kemudian ia bertemu dengan Biru, seorang lelaki yang membuat Cerah percaya bahwa hidup harus punya tujuan. Maka Biru adalah tujuan hidup Cerah.
Tapi cinta Biru tak mudah diubah, ia mencintai Krisan lebih dari apa pun. Mampukah Cerah mempertahankan cintanya atau membiarkan hujan meluruhkan segalanya?
*Cinta meskipun katanya indah, tetap saja rumit ketika di dalamnya ada banyak konflik dan intrik. Novel ini menjawab semua hal tentang cinta, yang tentu saja cinta dalam porsi yang luas. Tokoh-tokoh di dalamnya begitu hidup dan mewakili emosi pembaca. Saya suka novel ini, karena saya mendapat banyak pelajaran di dalamnya.
(Reni Erina, Managing Editor Story Teenlit Magazine)
* Novel yang menarik dengan penggambaran yang menuntun kita berimajinasi akan emosi-emosi yang mengalir dari tiap-tiap karakter di dalamnya.
(Donny Alamsyah, aktor The Raid, Merantau, 9 Naga)
* Cerita cinta tak selalu mulus. Kadang berliku, butuh perjuangan dan harap. Tapi cinta yang tulus senantiasa menemukan jalannya sendiri. Seperti cinta Sunny yang akhirnya berlabuh indah di hati pujaannya.
(Nando, penulis buku Beautiful Boy)
Sinopsis
Seneng rasanya siaran bodoh kita tiap hari itu bisa membuahkan hasil seperti buku ini. apakah ini buku revolusioner yang akan mengubah dunia penulisan Indonesia? Jelas tidak. Buku ini sederhana, tapi justru kesederhanaannya itu yang akan membuat banyak orang bisa mengerti bahwa cinta dan mimpi itu erat hubungannya. Nice. I like it.
Imam Darto “The Dandees”
Terbawa. Apalagi adegan di kereta mulai bikin gue tebak-tebakan buah manggis. Enteng-enteng dalem.
Dimas Danang “The Dandees”
Gokil pake banget, On Air In Love sukses bikin saya cekikikan sendiri karena ceritanya penuh dengan jokes-jokes seger. Tapi bukan kisah cinta namanya kalo ngga ada cerita romantis dan dramatisnya. So, jangan heran kalo habis ngakak kamu bakal dibuat mellow karena terbawa dan hanyut dalam konfliknya yang cadas!
Nurul Noe, Travel Blogger dan penggiat Backpacking With Children
Jatuh cinta pada pandangan pertama, emmm... biasa banget ya. Ketika cinta berawal dari frekuensi radio, wew... kisah cinta cukup unik yang membuat saya kepo hingga halaman terakhir.
Nita Faera, penulis the Tanjidor Boyz
Novel ini membawa suasana segar karena cara penceritaan si penulis yang begitu mengalir. Jokes-jokesnya juga bisa jadi bahan buat ngegombal ke pacar Alur ceritanya tidak mudah ditebak ternyata, jadi penasaran pengen baca terus sampai akhir. Ada saatnya saya merasa pernah memiliki pemikiran yang sama dengan tokoh utama ketika hendak menikah dulu. Pokoknya novel ini 'ngena' banget ke jiwa remaja yang masih suka ngegalau deh!
Ninna Rosmina, penulis One More Chance
Lonceng
pun berbunyi, mengisyaratkan semua siswa wajib masuk kelas guna mengikuti ujian
akhir semester. Para dewan guru yang menjadi pengawaspun segera mengambil soal
dan lembar jawaban yang dibungkus dalam satu sampul. Para peserta didik sebelum
masuk kelas wajib sholat dhuha, seperti hari-hari biasanya. Dipimpin kepsek
(kepala sekolah) atau tata usahanya, mereka sholat dhuha dua rakaat kemudian
satu dari mereka memimpin doa secara bergantian. Sampai saatnya mereka
berhadapan dengan soal-soal semester. Hari ini adalah hari senin, hari pertama
semester. Jam pertama pelajaran yang di
ujikan adalah matematika dan PPKN. Suasana hening, tak ada suara sedikitpun. Pak
Abdullah yang biasa di panggil ka’ Us masuk dikelas VIII A1, kelas yang isinya
laki laki semua, karna di pondok pesantren tersebut dipisah antara siswa dan
siswinya
“ihtiroom hayyu” teriak ketua kelas
VIII diiringi gema salam yang memenuhi
ruangan itu, sembari menjawab salam pak Abdullah pun duduk tenang. Sedikitpun
beliau tidak tertarik untuk senyum. “adik-adik saya harap semua buku di
kumpulkan , jangan sampai ada yang nyontek, perilaku yang terpuji lebih utama dari pada skor nilai yang tinggi“
pesan pak abdullah kepada peserta ujian seraya membuka sampul dengaan tangan ,
karna beliau tidak membawa silet. Ya...begitulah hidup ini tak ada rotan akarpun
jadi. Abdullah adalah guru tauladan di
pesantren tersebut. Dia akrab di panggil ka us karna guru guru lainya sering
memanggil ustaz. Sehhingga adik adik menyingkatnya ka’ Us yang artinya ka’ ustaz.
seseorang yang sangat taat kepada Allah dan
Rasulnya , postur tubuh tinggi, kulit putih, tegap, hidung mancung, indah di
pandang mata siapapun yang memandangnya. Ditambah lagi dia cerdas dan berakhlak
mulia, sehingga di tempat itu banyak ustadzah yang tertarik padanya, bahkan
sisiwinya pun banyak yang ta’jub akan ketampanannya. usai membagikan soal
beliau berdiri tegak dihadapan anak-anak sambil melototi mereka satu persatu. Sekali-
kali dia melangkahkan kakinya ke belakang siswa. Matanya tidak pernah lepas
dari peserta didik agar tidak nyontek. “ka’ Us kayak sisitv aja“ lanjut seorang
siswa sembari berbisik kepada teman sebelahnya. 45 menit sudah berlalu,
anak-anak belum ada yang keluar satu pun. Ka’ Us belum saja keluar. Anak anak
keluar keringat dinginnya. Pelajaran matematika, pengawasnya lebih ketat dari
pengawas UN, ih...serem....
“Ukh...ukh....khem..khem..” disela
keheningan ruangan kelas yang sunyi, ustadz Abdullah mengagetkan siswa yang
lagi tegang-tegangnya menghadapi soal.
“Kalian
sudah diajarkan materi ini??”
“Iya
ka”
“kalau
begitu jangan sampai kalian menyalahkan siapa-siapa, kecuali diri sendiri. Termasuk
pengawas, jangan sampai disalahkan karena tidak pernah keluar” lanjut beliau
sambil tersenym manis.
Tiba-tiba handphonnya berdering.
Tangan kanannya dengan sangat cepat masuk ke kantong bajunya yang sebelah kiri.
Tanpa melihat siapa yang nelpon, jempolnya menolak panggilan yang masuk. Beliau
tidak ingin ada aktifitas lain yang menggagu aktifitas mengawas. Selain itu
beliau juga jarang duduk di bangku karena harus
mondar-mandir mengawasi peserta. (syahril)
Sinopsis
Sena yang putus cinta dengan cinta pertamanya akhirnya memutuskan untuk tidak percaya lagi dengan namanya cinta, bahkan Sena jadi membenci cowok. Tapi suatu hari Sena diajak oleh bibinya untuk tinggal bersama dan tanpa sepengetahuannya di rumah itu telah tinggal tiga cowok tampan yaitu Kyou, seorang pelukis yang berasal dari Jepang dan Kay seorang model terkenal serta seorang biseksual, kemudian Austin seorang artis yang banyak dikagumi wanita. Selain tinggal satu atap, Sena juga harus satu kampus dengan mereka bertiga.
Masalah tambah rumit ketika muncul Ryo, mantan pacar gay Kay dan Kay terpaksa menjawab tantangan Ryo untuk menjadikan Sena ada di peringkat pertama cewek top di kampus.
Apakah itik buruk rupa berhasil berubah menjadi seekor angsa?
Kay terhadap Sena
Kenapa aku bisa suka pada gadis jelek ini?
Bagaimana mungkin? Kapan?
Tapi selama aku berada dekat dengan Sena, aku selalu merasa nyaman. Hanya itu yang kutahu.
Kyou terhadap Sena
Kau menyukaiku? Siapa yang mengizinkanmu menyukaiku!
Sena terhadap Kyou
Mulai sekarang... Aku akan berhenti untuk menyukai dan menggagumimu, aku akan menghilangkan semua perasaan sukaku padamu… kembali seperti dulu, sebelum mengenalmu. Karena dalam hidupku tidak ada namanya cinta, tidak peduli aku menyukainya atau tidak, itu semua tidak ada artinya… itulah mottoku dan bodohnya, aku hampir saja melupakannya.
Austin terhadap Sena
Cinta tidak bisa begitu cepat semudah itu kau lenyapkan begitu saja… Aku hanya bisa mengajarimu satu cara… dengarkan suara kata hati. Kata hatimu yang akan berbicara dan memberikan jawabannya padamu.
Bi Via terhadap Kyou
Kyou, aku akan membuatmu menyesal telah menolak gadis secantik Sena.
“sebenarnya adik masih trauma kak, sebelumnya
adik punya pacar ustaz, lalu menjauh setelah mengambil hatiku, hanya dengan
alasan sepele. Awalnya kami tidak punya planing yang jelas
masalah nikah, Akan tetapi tiba-tiba dia mengajak adek untuk nikah, aku sih
tidak keberatan, tetapi karena orang tua belum menyetujui, dia langsung
pergi dariku. Dan mulai saat itu,
ia tidak pernah tegur sapa dengan orang tuaku. Rumahnya tidak terlalu jauh dari
rumah adek. Dia adalah ustaz yang selalu menasihatiku. Sebenarnya kisah pahit
itulah yang mengantarku ke pesantren ini. Aku tidak mau lagi sakit hati untuk yang
kedua kalinya.”
“ tidak semua laki-laki itu sama dik” potong Eril menyela cerita Yuni
“tapi kak.....”
“sudah begini saja, adik mau apa gak, kakak
jaJni tidak akan seperti ustazmu itu. Kalau memang adek sudi bilang iya, kalu tidak juga gak
apa-apa sih....itu kan hak preogatif anti (kamu)”. “Tapi ku mohon bilang iya.. ”lanjut
nya dengan nada ragu setelah terdiam beberapa saat.
Sambil tersenyum, “ kakak ini lucu, itu
namanya paksaan” jawab yuni setenga bercanda, mencairkan suasana” sebenarnya
dari dulu adek mau, dengan syarat....”
“apapun syaratnya kakak siap dek” potong Eril
tidak sabar
“ asalkan kakak selalu siap mengajarkan”
“ ajar apa dik..” lanjut Eril penasaran
“ apapun itu, baik masalah cinta maupun
pelajaran”.
“Siap dik” lanjut Eril spontan walaupun dalam
hatinya bergumam ‘ini namanya cinta bersyarat, kurang seru, tapi nggak apalah,
yang penting sekarang adalah ia sudah
menerimaku di hatinya, perbaikan sambil jalan’.
“kenapa diam kak?” sambung Yuni membangunkan Eril dari lamunannya
“ya, iya, iya.. sampai dimana dik” jawabnya
setengah sadar.
“ kakak ini kayak ngajar aja, nanya-nanya
sampai dimana”. Adek juga minta maaf
yang sebesa-besarnya selama ini telah membuat kakak capek” sambungnya
“Nggak apa apa kok dik. Sesungguhnya malam
ini aku bahagia banget”. Tuturnya walaupun sebenarnya ia tidak begitu puas
dengan jawaban cinta gadis berjilbab besar itu.
Azan asharpun berkumandang. Chetting pun
selesai. Mereka pergi solat ashar
berjamaah. Kebiasaan yang sudah
mendarah daging pada santri. Sesibuk apapun, kalau Alloh telah memanggil, ia
harus melepas pekerjaannya, apalagi sekedar chatting. Selain itu, ia juga
terbiasa puasa senin kamis. Kehidupan yang penuh dengan pancaran hidayah dan
inayah Yang Kuasa, sehingga rata
-rata santri terlihat tanpa dosa, cerah,
adem, tenang, Bagai hidup tidak pernah ditimpa masalah.
Jadwal belajar kelompok pun tiba. Hari ini ada yang berbeda. Semua anggota tahu prihal Yuni dengan Eril. Mental Eril semakin kurang. Dari awal belajar sampai pulang ia terdiam membisu.
Begitu
juga diempat lain, kalau ada Yuni, mentalnya pasti hilang. Selain di kelompok
belajar bahsa arab. Ia juga bertemu dengan yuni di kelas diniyah. Ia adalah
guru nahwu nya. Setiap kali ia masuk kelas Yuni, pasti kaku. Inilah kekuatan
cinta.
Komunikasi
terbatas, santri tidak boleh bawa handphon, pengurus hawatir santrinya
terganggu dengan benda elektronik tersebut. Apalagi di zaman edan seperti ini,
Film forno menjamur. Jangankan anak SLTA, anak SD pun senang nonton film
tersebut. Walau demikian, tidak sedikit santri yang bawa hp. Kalau ditemukan,
handphonnya pasti langsung diambil ustaz. Bahkan tidak sedikit hp di tumbuk
batu, gara gara sering kali ditemukan bawa handphon, setelah diperingati
berkali-kali. Sesekali ia harus minjem hp pengasuh kalau lagi ingin komunikasi
dengan eril. Kalau tidak, mereka paling tidak hanya bisa komunikasi kalau Yuni
pulang kampung, itupun pun jarang. Paling cepat ia pulang sekali tiga bulan. Seberat
apapun rindunya, ia harus mampu menahannya. Walaupun sering ketemu di sekolah,
bukan berarti komunikasinya lancar. Eril selalu berusaha menjaga jarak dengan Yuni, belajar Sebagai tenaga pengajar yang profesional dan proforsional. (BERSAMBUNG)
“ janganka sepuluh kali, seratus kali Yuni
tidak membalasnnya, aku takan perah menyerah.” Gumamnya sambil merangkai kata
Saat
yang ditunggupun tiba, suratnya terbalas. Namun raut mukanya belum basah. Garis
besar horizontal di keningnya seakan-akan ada tulisa di atas garis itu 'galau', matanya menatap surat dari yuni penuh tanda
tanya. Tatapan ketidak puasan nampak dari matanya. Matanya yang sipit mulai
membesar. Keheningan malam menambah herannya Eril dengan isi surat Yuni. Malam
telah larut, jam dinding menunjukkan pukul 02.00 , mata Eril masih menatap
surat. Ia belum mampu memejamkan mata.
Sesekali ia keluar melihat bintang-bintang yang bertaburan dilangit yang cerah. Nampak
di sebelah timur bintang kejora yang dikellingi bintan-bintang lain. Namun
bayangn wajah yuni tidak bisa dikalahkan bintang-bintang dan keindahan alam
malam itu di benak Eril. “ inikah cinta?” gumam Eril. “Andaikan cinta bisa
dibeli, aku akan membeli cintatanya walau berapapun harganya” .
“Yun... apakah
kau mendengarku? Angin....sampaikan salamku untuknya, aku ingin memilikinya.
Aku mencintainya”
Eril adalah anak miskin yang bercita-cita
tinggi. Kalau ada yang menanyakan cita-cita, biasanya ia menjawab “ aku ingin
jadi penulis dan guru yang bisa mengajarkan semua bidang ilmu”. Pemuda umur 19
tahun itu memang pemuda miskin. Rumahnya saja terbuat dari bambu. Tanah tidak
punya, kakak tifak ada, bapak dan ibunya seorang buruh tani. Dia nyantri di praya, di sebuah podok
pesantren salaf, AL-AMIN namanya. semenjak SMP sampai
sekarang. Semenjak SD rangkingnya tidak perah turun dari angka satu. Setelah
tamat mengaji di level Mutawassithah, pengurus pesantren langsung merekrutnya
menjadi guru. Selain mengajar kitab matan jurumiyah, ia juga sebagai TU di
level Awaliyah. Frofesi barunya itu mengajarkannya untuk membuang sifat
jeleknya. Ia adalah pemuda yang
sangat pemalu. Kalau ketemu cewek.
Mukanya pasti langsung memerah. Aka tetapi setelah direkrut, ia tumbuh menjadi
pemuda yang bermental baja. Frofesi barnya itu jugalah yang membuat pembina
osis madrasah Aliyah di pesantren tersebt mempercayakannya sebagai koordinator
kelompok belajar bahasa arab. Bisa dikatakan pekerjaan barunya itulah yang
mempertemukannya dengan muslimah cantik itu. Wajahnya tampan, otaknya pintar,
dan pekertinya baik.
Mahyuni , dipanggil yuni. Cewek cantik
berbadan sedang, berkulit putih, hidung mancung, bermata sipit, manis, rajin
dan berakhlak mulia. Karena rajinnya, ia ikut bergabung dalam kelompok belajar
bahasa arab, meskipun masih sebagai siswi baru madrasah Aliyah. Ia tinggal di
asrama putri, ruang sepuluh. Hana
berjarak tembok dengan pondok teman eril, mas’ud namanya.
Malam itu Eril mencari ide, bagaimana
caranya bisa komunikasi dengan Yuni. Dengan batuan Mas’ud, ia mulai menulis
surat lalu dikirimnya lewat pentilasi di tembok pondoknya. Tembok yang menjadi
jarak antara kamar Mas’ud dan kamar Yuni “ untung ada pentilasi ini Ut” gumamnya. Namun sangat
disayangkan, lagi-lagi suratnya tidak dibalas. Kalau saja ia tidak malu sama
temannya. Pasti air matanya menetes.
Keesokan harinya, ia tidak kehabisan akal,
dengan bantuan handphon pengasuhnya,
“bagaimana kabarnya dik...”
“Sehat. Ada yag bisa saya bantu kak? O ya
kakak sehat? Maaf ya aku malu untuk nulis surat, sehingga suratnya sring tidak
dibalas.”
“ nggak ada dik” jawab Eril ragu, karena
tidak tau mau jawab pertanyaan yang mana.
“kenapa diam???” lanjut Yuni setelah beberapa lama Eril terdiam membisu.
“ begini dik, sebenarnya kakak ingin adik
bersedia jadi pacar kakak. Pinginnya kakak dijawab sekarang . kakak tidak mau
diganntung-gantung” kata Eril pura-pura jadi lelaki tangguh. BERSAMBUNG(Syahril)
Tatapan
mata bercampur senyum manis, meluncur
dari wajah ayu meluluhkan hati Eril yang sedang membacakan daftar hadir
kelompok belajar bahasa arab sore itu. Terbesit dari sanubari Eril, hendak
memiliki pemilik senyuman itu.
“dari
ma-mana dik...” suara eril gugup. Yuni diam membisu karena malu. Sedikitpun tak
ada respon untuk eril. Suasana belajar sore itu adalah suasana baru bagi Eril.
Walaupun Ustaz Abdulloh telah memulai
pembelajaran, Eril tak kelihatan seperti biasanya. Semangatya seratus kalii
lipat dari biasanya. Sebentar-sebentar ia melihat yuni, kemudian buang muka kalau dilihat.
Setelah
sampai pondok, dengan hati penuh rasa ragu dan bimbang, sembari merenung, polpennya terus menari-nari
di atas kertas ungu berlatar bunga, ia belajar menulis surat untuk yang ke tiga
kalinya.
Special for you
Salam kenal.
Semoga kertas putih yang telah kukotori dengan tinta ini membuat kita saling
mengenal dan membuat kakak bisa dekat dengan adik...
Eril
Surat ini merupakan surat pertama untuk Yuni, namun
surat keluar dari Eril untuk cewek adalah yang ke tiga. Sebelumnya, ia pernah
kirim surat ke dua cewek lain, Faizah dan Makiyah namanya. Ironisnya, dua cewek
itu menolaknya. Padahal tidak ada satu cewekpun yang mengatakan Eril itu jelek.
Mungkin, mungkin ya, mereka tidak yakin kalu Eril itu serius. Ya, seharusnya
dia tunjukkan bahwa dia memang serius. Tapi, entahlah, bagaimana pemalunya Eril
waktu itu. Dan kini ia tidak mau gagal untuk yang ketiga kalinya.
Hari demi hari dilaui Eril penuh harapan. Satu
minggu berlalu terasa satu tahun. Suratnya belum dibalas. Resah, galau, ragu,
bimbang, risau,dan sedih menyatu. Makan-minum tak enak, tidur pun tak
nyenyak.
Sabtu pagi, jadwal kursuspun tiba, Eril berharap kali
ini ia dapat bicara langsung, guna menyampaikan isi hati. Betul kata orang,
cinta itu bagaikan kentut. Ditahan sakit perut, dikeluarkan bikin ribut.
Awalnya yang tau hasrat Eril itu hanya jaki, teman dekatnya. Namun karena
dilihat banyak orang saat ia sedang berbicara dengan Yuni di depan ruang kelas,
akhirnya semua temannya pun tau hal itu.
“Dik..udah dulu ya.... terimakasih atas
waktunya” lanjutnya setelah berbicara
hanya beberapa menit. Ingin rasanya ngobrol berjam-jam, namun situasi dan
kondisi yang tidak mendukung. harapan berbuah harapan. keinginan berujung
impian. Yuni, adalah cewek yang berasal
dari kampung pedalaman. Kampung yang jauh dari keramaian, kebon nanas, desa
pengenjek, kecamatan pringgarata, Lombok Tengah. Cewek cantik berkulit putih
ini terkenal pemalu, sehingga menjadi sebuah tantangan berat untuk medekatinya.
Eril
pantang menyerah. Malam itu, saat Yuni di madrasah. Ia mencoba untuk menulis
surat lagi. Kali ini satu halaman kertas
putih polos terulis full untuknya. Berharap ia sudi membalasnya. Hal yang
sangat aneh sekali. Yuni berlari ke jeding sambil memegang surat dari Eril
dengan tangan kirinya. Perlahan ia buka, surat cinta itu bukannya diterima dengan
senyuman, bahkan tangisan membasahi sebagian beasar kertas tersebut. Entah ada
apa dibalik hal itu. Yang jelas harapan Eril belum terbayang jawabannya.
BERSAMBUNG (syahril)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
