Showing posts with label Pariwisata. Show all posts


Pulau Lombok merupakan pulau kecil nan elok yang dihuni oleh Suku Sasak berada di wilayah Nusa Tenggara Barat yang ber-ibukotakan Mataram secara administrative terbagi atas empat kabupaten “Lombok Barat,Lombok Utara,Lombok Tengah, dan Lombok Timur serta satu kabupaten kota yaitu Kota Mataram.
Walaupun terbilang pulau kecil, namun Lombok memiliki keragaman budaya dan adat istiadat yang unik, yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah lain di Indonesia, baik dalam proses sebelum melangsungkan pernikahan, walimatul ursyi (selamatan pernikahan), atau dalam melaksanakan prosesi hitanan yang dalam bahasa Sasaknya disebut “besunat” bagi anak laki-laki, ataupun dalam acara-acara lainnya.
Dalam melaksanakan prosesi hitanan sendiri biasanya dilaksanakan sebuah acara yang lzimnya disebut begawe (acara hajatan/selamatan), dan acara ini biasanya diselenggarakan pada bulau maulid (Rabi’ul Awal) ketika memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. dan penyelenggaraannya sendiri biasanya di masjid. Hal ini dilaksanakan secara missal pada sebuah dusun ataupun desa.
Namun tidak sedikit juga yang melangsungkan acara ini dengan mengadakan gawe sendiri dan terkesan lebih meriah, karena pada malam hari sebelum acara ini dilaksanakn, digelar beragam kesenian tradisional Lombok seperti bejogetan (menari dengan diiringi music tradisional) ,atau hanya dengan gelaran music tradisional saja seperti gendang beleq, atau gamelan yang bisa dinikmati oleh semua pengunjung, baik yang diundang maupun yang tidak.

Pada hari saat akan dilakukannya hitanan, anak yang akan dihitan dihibur dengan cara ditandu berkeliling kampung diiringi oleh warga serta dengan lantunan music tradisional yang has layaknya seorang raja menggunakan kuda-kudaan yang terbuat dar kayu yang disebut Jaran Kamput. Namuh budaya Sasak seperti ini sudah mulai menghilang dan bahkan terancam punah karena sudah jarang sekali digunakan baik dalam acara seperti ini maupun dalam acara nyongkolang (acara mengantar pengantin wanita ke rumah orang tuanya). Khocet   




Pemandangan alam yangterhampar hijau bak permadani, angin yang bertiup spoi yang menina bobokkan,itulah Desa Mas-mas. Desa Mas-mas merupakan salah satu Desa dari delapanDesa yang ada diwilayah Batukliang Utara, yang berbatasan langsung denganKecamatan Kopang Lombok Tengah. Desa mas-mas memiliki potensi yangsangat luar biasa untuk dijadikan obyek wisata.

Salah satu obyek wisata yangbanyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun luar negeri seperti dariJerman, Prancis, Amerika, Jepang, Inggris,dan negara-negara lainnya adalah MbungDao (danau kecil). Disi para pengunjung bisa meliat keindahan pemandangangunung tertinggi yang ada di pulau Lombok dengan sangat jelas, bahkan terlihatseperti di depan mata yaitu Gunung Rinjani.
Selain itu, para pengunjungbisa merasakan nyamannya berlayar di Mbung Dao menggunakan rakit bambu yangoleh masyarakat setempat disebut “Jukung” sambil menangkap ikan danudang dengan jaring (masayarakat setempat menyebutnya seser) yaitu sebuah alatyang di buat dari bambu yang dipasangkan sejenis kelambu atau net diujungnya.Kemudian hasil tangkapan bisa langsung dinikmati dengan cara dipanggang di tepiMbung Dao yang sangat nyaman.
Hal lain yang pengunjungbisa dapatkan di Desa Mas-Mas adalah melihat dari dekat dan bahkan bisalangsung belajar membuat anyaman dari ketak (sejenis rotan) atau anyaman tikardari daun pandan. Jika selama ini pengunjung yang pernah mengunjungi sebuahtempat wisata hanya bisa melihat saja sebuah produk yang sudah jadi, namun di DesaMas-Maspengunjung bisa langsung ikut belajar bersama para pengerajin. Selainitu juga, pengunjung bisa mengetahui bagaiman kehidupan masyarakat setempatdengan detail, baik tentang pola hidup, serta sisi kehidupan lainnya. Yangpasti pengunjunga akan mendapatkan pengalaman baru yang tidak akan didapatkandi tempat lain.
Disini juga anda bisamenikmati makanan khas orang masyarakat setempat seperti pelecingkangkung, sayur rebung (bambu muda), sayur ares ( pohon pisang muda), daunsingkong, daun turi, dan lain-lain. Tamrin
Pesta rakyat “ Bau Nyale “ sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun bagi masyarakat suku Sasak Lombok yang diadakan setiap tahun di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah bagian selatan. Bau dalam bahasa sasak berarti menangkap, sedangkan nyale adalah sejenis cacing karang. Jadi Bau Nyale dapat diartikan menangkap cacing laut yang memiliki cerita tersendiri bagi warga Lombok Tengah.
Pada tahun 2012 pesta bau nyale diadakan selama dua hari, sabtu dan minggu tanggal 12-13 Februari dan pada hari ini juga ditetapkan menjadi hari libur lokal di Kabupaten Lombok Tengah.
Pada acara ini bukan saja dimeriahkan oleh warga Lombok Tengah, bahkan banyak wisatawan mancanegara turut serta berbaur dengan dengan warga. Masyarakat yang akan merayakan pesta ini sejak sore berkumpul di pantai mengisi dengan berbagai kegiatan budaya dan kesenian Lombok , seperti peresean (olah raga tradisional saling pukul dengan rotan). Sedangkan pada malam hari diisi dengan berbagai kesenian tradisional seperti Gendang beleq,“Betandak” (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), Dan acara ini juga semakin meriah dengan digelarnya drama kolosal Putri Mandalika,dan penginang robek.
Dalam acara ini yang terlihat sangat menonjol adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan warga masyarakat yang dapat terus dipertahankan dalam mendukung kelangsungan budaya tradisional.
Asal Muasal Nyale
Zaman dahulu di bagian selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru yang diperintah oleh seorang raja yang sangat arifan dan bijaksana yaitu Raja Tonjang Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting. Kearifan serta kebijaksanaan raja yang dimiliki kerajaan Tonjang Beru membuat semua rakyatnya menjadi makmur, serta aman sentosa.
Konon raja memiliki seorang putri yang sangat anggun dan jelita bernama Putri Mandalika. Selain anggun dan berparas cantik ia juga terkenal dengan keramahan serta memiliki sopan santun yang sangat tinggi.Dengan kecantikan dan akhlaknya yang begitu baik sang putri menjadi kebanggaan seluruh rakyatnya.
Kecantikan dan keanggunan sang putri banyak menarik hati pangeran-pangeran yang ada dikerajaan lain di pulau Sasak Lombok dan ingin dipersuntingnya, seperti pangeran kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha. Namun dari sekian banyak orang yang mencoba mendekati sang putri, dengan kelembutannya serta kebijakannya semuanya tidak ada yang diterima.Walaupun begitu ada pangeran yang tidak mau menerima keputusan sang putri, dan mengancam ingin menyerang serta menghancurkan kerajaan Tonjang Beru.
Sang putri tidak mau menerima semua pangeran untuk mempersuntingnya karena merasa memiliki tanggung jawab yang besar. Akan timbul sebuah bencana disaat putri memilih salah seorang pangeran. Dalam semadi yang dilakukannya, sang putri mendapat petunjuk agar menghadirkan semua pangeran dalam sebuah pertemuan menjelang pagi . Selain pangeran sendiri, juga harus disertai oleh seluruh rakyatnya masing-masing. Semua undangan diminta kehadirannya di pantai Kuta Lombok Selatan.
Seperti yag didapatkan dalam semedinya, sang putripun mengundang semua pangeran untuk hadir menjelang subuh. Sang putri yang cantik dan anggun hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas dengan pengawalan dari prajurit kerajaan. Semua undangan yang telah menunggu kehadiran sang putri hanya bisa berdecak kagum melihat kecantikan serta keaggunan sang putri.
Tidak lama kemudian, sang putri melangkah, lalu berhenti di sebuah batu, membelakangi laut lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia melihat kepada seluruh undangannya. Sang putri hanya berbicara singkat, mengumumkan keputusannya dengan suara ”Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama”
Mendengar apa yang diucapkan oleh sang putri, semua hadirinpun bingung. Dan tak lama kemudian sang putri menceburkan diri ke dalam laut. Bersamaan dengan itu juga tiba-tiba angin bertiup kencang dibarengi kilat dan petir yang menggelegar.
Disaat para tamu undangan masih dalam kebingungan muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang mirip seperti cacing. Menurut dugaan mereka binatang itulah jelmaan dari sang sang putri.kemudian mereka beramai-ramai mengambil binatang itu untuk dinikmati sebagai santapan. (Tamrin)

Welcome to My Blog

- Copyright © TBM Al-Hikmah -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -