Showing posts with label renungan. Show all posts
Pernahkah kalian naik angkot, lantas tiba-tiba dengan senang hati sopir angkotnya bilang, "nggak usah bayar, dik. gratis hari ini?"
pernahkah kalian pergi ke kantor kades, lurah, ngurus KTP, lantas petugasnya sambil tersenyum bilang, "tunggu sebentar ya, 1 jam lagi KTP-nya pasti jadi." lantas sang petugas semangat betul mengurusnya, kesana-kemari, jadi, ketika mau diambil, mau ngasih uang lebih karena ihklas, si petugas sambil nyengir bilang, "maaf, tdk usah mbak, sudah kewajiban kami, kok."
pernahkah kalian ditilang polisi, lantas pak polisi hanya menepuk bahu, tersenyum, "besok jangan lupa helm-nya ya mas, ayo, silahkan jalan lagi."
pernahkah kalian bertemu dokter, berobat,diterima dgn senyum, dijelaskan dgn rinci, bahkan dia pandai sekali memberi tips agar sakit tak terulang, saat hendak membayar, "ini no hp saya ya, besok lusa kalau ada keluhan, nggak usah datang, sms atau telpon saja. kan repot jauh2 datang."
pernahkah kalian punya teman yg mau berbagi apa saja, punya tetangga yg baik dan suka mengirim makanan? pernahkah...
kemanakah pendidikan akhlak itu, yg tersisa hari ini adalah: sopir angkot galak mengejar setoran, petugas yg jangankan berpikir mengabdi, dokter dgn kepedulian terbatas, polisi yg lbh sering menyusahkan dibandingkan mengayomi, kawan yang sering mengajak kesia2an, tetangga yg kotor dan dengki hatinya..
kemanakah akhlak mulia itu... maka jangan tanya pemimpin2 kita, jangan tanya org2 yg punya kekuasaan, acara2 di televisi, glamour orang menengah ke atas..
di hari jum'at yg mulia ini, mari kita meneguhkan hati, merapatkan barisan, kesempatan itu tetap ada, ketika generasi baru terlahirkan dgn akhlak cemerlang bagai mutiara... mari kita serbu rumah2 mereka, kamar2 mereka, ruang makan, ruang tamu... dengan kebaikan kepada mereka... maka ketika sekitar begitu rusaknya memberi teladan, smoga dgn akhlak kita yg baik mereka terinspirasi sebuah kebaikan... sesuatu yg disebut akhlak mulia!
seperti deru pesawat terbang, membuat bergetar kolam tenang 30.000 kaki di bawahnya, membuat bergetar jendela2 rumah, begitulahkebaikan... membuat bergetar hati2 kita
Berikut ini adalah kisah dari seorang sahabat yang menginfakkan sedikit hartanya padahal beliau dalam kondisi sulit, namun ternyata begitu banyak hikmah yang dapat diraih dengan menginfakkan hartanya tersebut. hanya dengan berinfak sebesar 1500 rupiah, Allah swt melipat gandakannya berkali kali lipat sampai dengan 600.000 dalam sekejap. subhanallah..
Semoga kisah berikut ini dapat menjadi inspirasi bagi pembaca setia blog kampung media alhikmah... selamat menikmati..
Jum'at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub. Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. "Yah cukuplah untuk pergi pulang ke kantor".
Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah.
Saya bertanya dalam hati, "makan apa keluarga saya siang nanti?" Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.
Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu.
Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang -sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.
Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.
Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi.
Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng itu untuk makan siang saja.
Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di rumah menanyakan kabar anak-anak. "sudah makan belum?" si cantik di seberang telepon hanya menjawab, "Insya Allah," namun suaranya terasa getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.
Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di jalan raya.
Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya, sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada kotak amal di pojok masjid.
"Bismillah .." saya masukkan dua koin lima ratus rupiah ke kotak tersebut.
Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak amal yang sama.
Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie instan sudah tersaji, "kita makan sama-sama yuk..." ajak istri
Kemudian saya bilang, "abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang makan". Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.
***
Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan.
Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.
Tiba-tiba telepon saya berdering, "Pak, saya baru saja mentransfer uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak bapak ya..." seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.
Subhanallah, Allahu Akbar ..! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk diinfakkan.
***
Subhanallah, demikianlah Allah menjamin rizki seluruh makhluknya .. Bila melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allahlah yang mengatur segala urusan dan pemenuhan kebutuhan kita , dunia dan akhirat. .. dengan berbagai jalan yang Allah kehendaki. Wallahu a'lam.
Semoga bermanfa'at dan diambil ibrahnya ....
Sumber: Zilzaal / Lisa Rahadi
Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah.
Saya bertanya dalam hati, "makan apa keluarga saya siang nanti?" Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.
Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu.
Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang -sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.
Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.
Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi.
Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng itu untuk makan siang saja.
Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di rumah menanyakan kabar anak-anak. "sudah makan belum?" si cantik di seberang telepon hanya menjawab, "Insya Allah," namun suaranya terasa getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.
Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di jalan raya.
Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya, sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada kotak amal di pojok masjid.
"Bismillah .." saya masukkan dua koin lima ratus rupiah ke kotak tersebut.
Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak amal yang sama.
Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie instan sudah tersaji, "kita makan sama-sama yuk..." ajak istri
Kemudian saya bilang, "abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang makan". Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.
***
Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan.
Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.
Tiba-tiba telepon saya berdering, "Pak, saya baru saja mentransfer uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak bapak ya..." seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.
Subhanallah, Allahu Akbar ..! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk diinfakkan.
***
Subhanallah, demikianlah Allah menjamin rizki seluruh makhluknya .. Bila melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allahlah yang mengatur segala urusan dan pemenuhan kebutuhan kita , dunia dan akhirat. .. dengan berbagai jalan yang Allah kehendaki. Wallahu a'lam.
Semoga bermanfa'at dan diambil ibrahnya ....
Sumber: Zilzaal / Lisa Rahadi
Baru-baru ini saya terlibat diskusi hangat di Forum Alumni ITB tentang kesesuaian materi kuliah dengan pekerjaan.
Dari semua polling, cukup besar persentase alumni yang polling menyatakan bahwa presentase kesesuaian kecil.
Akan tetapi, berpendapat bahwa persentase keselarasan yang kecil tersebut tidak masalah.
ITB tidak terbatas ke Jurusan Informatika dan yang posting adalah alumni berbagai jurusan bahkan di semua sekolah menengah, tinggi dan universitas di indonesia.
Bila sebelumnya dalam berbagai tulisan saya fokus pada alumni pendidikan software, kali ini saya memperluas pembahasan ke berbagai jurusan.
Bisalah kita katakan bahwa para mahasiswa pernah begadang atau pernah (atau banyak) melanggar hukum dengan fotokopi buku cetak tanpa izin penerbit.
Para mahasiswa juga pernah harus berpikir yang rumit-rumit, nyontek, beli alat ini itu, dan ikut ospek - yang dalam beberapa kasus ditebus dengan nyawa.
Kalau alumni menganggap semua kesia-siaan pengorbanan itu tidak masalah, makin bertambah satu faktor penyebab jebloknya Indonesia. Ya, ternyata orang-orang yang dianggap intelek itu -alumni perguruan tinggi- adalah orang-orang yang boros luar biasa.
Mereka boros dengan dosa, mengumbar pelanggaran hal salin orang lain secara bertahun-tahun tanpa rasa bersalah.
Mereka boros dengan dosa menyontek. Bahkan setelah boros dengan segala dosa itu, mereka bisa dengan enteng mengatakan tidak masalah bahwa ujung dari semua dosa tersebut bukanlah keberhasilan membuat produk.
Banyak engineer Cina, Jepang, Korea, atau Taiwan melakukan semua dosa diatas tapi berujung pada penguasaan teknologi untuk membuat produk.
Bila sama-sama berdosa seperti itu, saya lebih bangga jadi orang-orang ras kuning daripada orang indonesia dalam hal seperti itu.
Sekarang mari kita lihat hal-hal boros tanpa melihat dosa.
Bila melihat borosnya alumni -dengan menyetujui kesia-siaan pendidikan- tidak mengherankan kita kalah dari Cina, Jepang, Korea, Malaysia, dan Singapura.
Malaysia berusaha tidak boros dengan pendidikan mereka sehingga engineer mereka bisa dipakai untuk menguasai industri otomotif, transportasi, dan teknologi informasi.
Ada efek yang buruk dan mengkhawatirkan dari ketidakpedulian alumni tentang ketidaksesuaian materi kuliah dengan pekerjaan.
Efek buruk pertama adalah ketidakpedulian pebisnis pendidikan dan pengajar.
Bayangkan kalau saya pengajar atau pebisnis pendidikan.
Suatu saat saya menghadapi demontrasi besar-besaran dari mahasiswa. Mereka protes bahwa materi kuliah jelek dan tidak sesuai tuntutan dunia kerja.
Saya akan undang alumni terkenal yang sudah bekerja di bidang lain dan boros dengan pendidikan yang merasa cincai-lah tidak harus bekerja sesuai jurusan segera setelah tamat.
Alumni tersebut tentu harus konsisten dengan perkataannya. Dia saya pakai untuk membuat pembelaan,"Sudah, jangan ribut tentang materi kuliah." Nah, saya enak dan mudah 'kan berkelit dari tanggung jawab?
Sebagai mahasiswa, saya juga bisa menyalahgunakan tingkat pemaafan yang berlebihan terhadap ketidaksesuaian materi kuliah dengan pekerjaan.
Kalau dosen saya menasihati -atau mungkin tepatnya menakut-nakuti- bahwa saya harus belajar serius di kelasnya, saya akan dengan enteng mengutip alumni saya,"Pak, alumni kita banyak kerja enggak sesuai jurusan kok. Saya cuma mau dapat gelar kok di sini. Bapak tau itu juga, 'kan?"
Suatu pembelaan yang klasik terhadap tidak sesuainya materi kuliah dengan pekerjaan adalah seperti ini,"Yang kita dapat itu pola pikirnya".
Tidak jelas pola pikir seperti apa yang didapat dari kuliah yang sesuai dengan banyak pekerjaan. Bukankah banyak buku yang mengajarkan kita cara berpikir? Saya pada saat kuliah di ITB di dekade 1980 sudah membaca buku De Bono berjudul Berpikir Lateral.
Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Prof.Dr. Muhammad Basri Wello, mengatakan bahwa kuliah adalah investasi (http://metrotvnews.com/read/news/2012/02/04/80908/Belasan-Universitas-Terancam-Jadi-Sekolah-Tinggi/3).
Bila kita sangat permisif untuk membiarkan materi kuliah tidak sesuai pekerjaan, apakah (materi) kuliah masih merupakan investasi?
Sumber:PCMedia 03/2012
Penulis: Bernaridho L. Hutabarat (Direktur PT Bisnis Tekno Ultima)
bernaridho@biztek.co.id


