Dalam rangka meningkatkan profesionalitas guru di SMPN Satap 2 Batukliang, Pada hari sabtu, 30 juni 2012, digelar IHT (In House Training) bagi 20 orang guru mata pelajaran yang mengajar di sekolah tersebut, kegiatan yang didanai oleh anggaran BOS tahun 2012 ini tentu saja sangat bermanfaat bagi peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di SMPN Satap 2 Batukliang.
Sebagaimana yang disampaikan oleh kepala SMPN Satap 2 batukliang Bapak Djumhur Hakim, B.Sc dalam sambutannya, menyatakan bahwa kegiatan ini untuk meningkatkan profesionalitas guru dan mutu pendidikan di sekolah agar prestasi yang diperoleh sebagai sekolah dengan predikat nilai UN terbaik se Lombok Tengah dapat tetap terjaga untuk tahun-tahun selanjutnya.
Tidak tanggung-tanggung, Narasumber yang digunakan dalam Kegiatan IHT kali ini adalah bapak L. Muliawan yang merupakan pengawas SMP di Dikpora kab. Lombok Tengah dan bapak mujiman kepala SMPN 1 Batukliang, adapun yang dibahas dalam kegiatan IHT ini meliputi penilaian kinerja guru (PK), pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), penetapan KKM, pendidikan karakter, dan yang tidak kalah penting yaitu motivasi-motivasi bagi guru agar lebih semangat dalam mengajar.
kegiatan IHT yang dilaksanakan selama dua hari ini tentu saja dapat dijadikan contoh bagi sekolah-sekolah lain untuk lebih meningkatkan profesionalitas guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam berkarya untuk kemajuan bangsa, melalui pendidikan berkualitas untuk siswa-siswi sebagai calon pemimpin bangsa. (hajri)
FORM KEGIATAN MOTIVATOR KAMPUNG MEDIA AL-HIKMAH
BULAN :
JUNI TAHUN 2012
|
NO
|
HARI/
TANGGAL
|
LOKASI
KEGIATAN
|
MATERI
|
|
1
|
2 Juni 2012
|
Sekretariat Kampung Media Al-hikmah
|
Diskusi dan sharing bersama anggota komunitas kampung media
al-hikmah dalam hal penulisan dan
motivasi
|
|
2
|
4 Juni 2012
|
Rumah H. Mursalin
|
Sharing tentang dunia pendidikan
|
|
|
5 Juni 2012
|
Dishubkominfo NTB
|
Silaturrahmi dan diskusi bareng coordinator kampung media NTB
|
|
3
|
9 Juni 2012
|
Sekretariat yayasan jam’ussyahidin
|
Diskusi dan sharing dalam rangka meningkatkan kualitas proses
pembelajaran di yayasan jam’ussyahidin pagutan bersama kepala madrasah, dan
dewan guru
|
|
4
|
10 Juni 2012
|
MA An-nazhar
|
Memberikan motivasi kepada para siswa MA an-nazhar dan menawarkan
untuk terlibat didalam kegiatan komunitas kampung media terutama dalam
penulisan sebagai bahan pembelajaran bagi para siswa dalam bidang jurnalistik
|
|
5
|
12 Juni 2012
|
Rumah Johan
|
Ngobrol dan diskusi tentang keadaan pemuda saat ini khususnya tentang
kenakalan remaja yang semakin akut
|
|
6
|
19 Juni 2012
|
Sekretariat Kampung Media Al-hikmah
|
Sharing bersama pemuda desa pagutan agar lebih termotivasi dalam
segala hal dan merencanakan kegiatan nonton bareng
|
|
|
20 Juni 2012
|
Halaman Yayasan Jam’ussyahidin
|
Mengadakan acara nonton bareng bersama masyarakat untuk lebih
mengenalkan kampong media
|
|
|
21 Juni 2012
|
Halaman Yayasan Jam’ussyahidin
|
Ikut serta dalam persiapan kegiatan pelepasan siswa siswi MI dan MA
di yayasan jam’ussyahidin yang dihadiri oleh Wakil Bupati
|
|
|
30 Juni 2012
|
SMP Satap 2 Tojong ojong
|
Mengikuti kegiatan pelatihan IHT (In House Training)
|
Judul di atas mungkin sudah biasa kita baca bahkan kita dengar , lalu timbul pertanyaan apa dan dimana akarnya ? kita boleh mengatakan Edi Tansil koruptor no 1 diindonesia dan tak salah menyatakan gayus tambunan seorang mafia pajak , serta sederet anggota legislative terlibat kasus korupsi.
Banyak kalangan berharap agar para koruptor dihukum setimpal dengan perbuatannya naasnya lagi ada wacana untuk menghukum koruptor dengan hukuman mati , alih-alih terbentur dengan HAM (Hak asasi Manusia) dan faham agama yang tak menghendaki hukum mati .
Jika kita ingin berfikir lebih cerdas tanpa mengabaikan hal-hal diatas , alangkah bijaknya jika bersama-sama mengkaji lebih mendalam soal KORUPSI , secara harfiah korupsi berarti RUSAK , apa yang rusak ? jawabannya sederhana POLA FIKIR ! kita awali dengan sebuah contoh sederhana tentang pola fikir ,ketika kita meminta tanda tangan untuk pembuatan surat-surat didesa selalu ada pertanyaan …..berapa biayanya ? padahal belum ada ketentuan yang jelas bahwa sebuah tanda tangan patut dihargai dengan uang , ada yang berdalih harus membayar administrasi. Padahal biaya administrasi jelas-jelas sudah dianggarkan dalam APBDes dalam bentuk ATK , lalu administrasi macam apa yang harus dibayar ? dalam kasus ini kita sebagai terlayan dan petugas desa sebagai pelayan selayaknya mengubah mainset kita soal bayar membayar , jika tidak ada ketentuan jelas soal tarif TANDA TANGAN maka haram hukumnya dan jika dilakukan itu adalah tindak pidana korupsi.Johan
Suatu malam di dusun Lembok Lauk Desa Pagutan , tepatnya pukul 22:00wita terdengar jelas suara gebukan gendang dengan paduan beberapa instrument lainnya membuat tubuh setiap orang yang mendengarnya ingin bergoyang .
Di sebuah halaman kecil tampak sekerumun orang yang tengah asyik memanjakan mata menyaksikan lenggokan tubuh seksi wanita muda mengenakan kebaya diiringi lantunan lagu-lagu sasak popular, pemandangan seperti ini mungkin bagi sebagian masyarakat Lombok merupakan hal yang sudah lumrah.
Ya , joget sudah menjadi tradisi yang cukup unik dilombok terutama ketika salah seorang warga mempunyai hajatan , entah itu acara pernikahan , acara adat bahkan ritual keagamaan tidak luput dari kemeriahan be”JOGED”an .
Pertanyaan sederhana apakah dalam kebudayaan sasak jogged ini ada dalam tradisi nenek moyang kita dulu ? jika ada apa batasannya dan jika tidak mengapa dilestarikan ? Parahnya lagi tontonan semacam jogged ini ternyata diminati dan ditunggu oleh anak-anak dibawah umur.
Mau dibawa kemana adat sasak Lombok ? bukankah Sasak Lombok artinya sesuatu yang lurus ? Lalu apa upaya kita untuk meluruskan kebiasaan menyimpang ini ? kita patut acungkan jempol bagi orang-orang yang bersikukuh untuk tidak memberikan kesempatan untuk menggelar acara jegedan, karena masih banyak dusun-dusun yang higga saat ini anti terhadap jogged.
Lalu dimana peran lembaga-lembaga adat sasak ?
Kita mengenal MAS (Majelis Adat sasak) sudah saatnya cepat tanggap terhadap persoalan adat diakar rumput , tidak hanya sibuk dengan kegiatan-kegiatan semacam seminar atau hanya cuap-cuap di berbagai media semata , negeri ini butuh tindakan cepat dan akurat . Johan
Setelah melaksanakan ujian nasional untuk pertama kalinya pada tahun 2012 ini, siswa siswi MI dan MA an-nazhar yang berada dibawah naungan yayasan ponpes jam'ussyahidin pagutan mengadakan acara tsyakkuran dan perpisahan bersama wakil bupati lombok tengah bapak Normal Suzana dan masyarakat pagutan.
Acara yang dirangkai dengan kegiatan nonton bareng pada malam sebelumnya ini berlangsung meriah dan tentu saja memiliki kesan yang mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat, terlihat jelas nuansa kebersamaan dan partisipatif dari seluruh elemen mulai dari wali murid, tokoh agama, tokoh masyarakat, kadus sampai dengan pemerintah kecamatan.
Acara yang dimulai pukul 09.00 wita pada hari kamis (21 Juni 2012) kemarin, bertujuan untuk menjalin silaturrahmi antar seluruh lapisan masyarakat serta untuk memotivasi siswa-siswi agar lebih semangat dalam belajar, selain itu juga diberikan tips untuk menjalani hidup dengan lebih baik. sebagaimana yang disampaikan oleh TGH. Fauzan mustafa dalam sambutannya,
sedangkan wakil bupati menyampaikan tentang kondisi pendidikan di kabupaten lombok tengah yang masih rendah sebagai motivasi bagi seluruh lapisan masyarakat agar lebih berbenah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kabupaten lombok tengah. (hajri)
Salah satu indicator kesuksesan sebuah program yang dicanangkan pemerintah adalah terciptanya mutu pelayanan yang berkualitas , karena akan berdampak positif pada masyarakat yang dilayani. Untuk itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab setiap lembaga pemerintah untuk terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan.
Setidaknya itulah yang sedang diupayakan oleh pihak Puskesmas AIK DAREK yang terletak di Kec.Batukliang Kab.Lombok Tengah , Kepala Puskesmas AIK DAREK Ibu Erma Wahyuni S.KM mengakui jika saat ini pihaknya belum mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat secara luas karena beberapa faktor antara lain manajemen puskesmas yang belum tertata dengan baik , selain itu masyarakat penerima layanan yang masih belum memahami makna pelayanan yang baik secara komperhensif juga menjadi kendala bagi pihak puskesmas.
“ Mulai bulan juni 2012 ini kami sudah melakukan penataan manajemen dengan melibatkan 5 pustu dan poskesdes sekecamatan batukliang “ungkapnya.
Ketika ditanya soal keberadaan poskesdes , ibu muda dengan kawat gigi ini menyatakan siap menerima laporan dan keluhan masyarakat tentang pelayanan kepada para ibu hamil dan bersalin , ia berharap agar para petugas baik di Puskesmas , Pustu maupun di Puskesdes agar lebih intensif memberikan sosialisasi tentang pelayanan kepada masyarakat agar nantinya masyarakat dapat memahami dan mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Johan
Setelah sekian lama mendambakan layanan pajak kendaraan bermotor (samsat) yang mudah, murah dan tidak ribet, tepatnya pada hari senin, 18 Juni 2012 kemarin pada jam 8.30 wita, masyarakat desa pagutan dikunjungi oleh mobil samsat keliling, tentu saja keberadaan mobil samsat ini sangat membantu masyarakat dalam membayar pajak kendaraan bermotor yang dimilikinya.
Sedikitnya sekitar 30an orang datang untuk membayar pajak kendaraan bermotor pada mobil samsat keliling tersebut, mobil samsat keliling ini tentu saja sangat membantu dan memudahkan masyarakat pagutan dalam membayar pajak kendaraan karena untuk lokasi kantor samsat praya sangat jauh dari desa pagutan sekitar 23 km, sehingga banyak masyarakat yang memanfaatkan jasa calo yang tentu saja menambah biaya pajak itu sendiri.
selain itu keberadaan mobil samsat ini juga memangkas sistim birokrasi ketika membayar pajak seperti yang dikantor samsat, karena pelayanannya yang tidak bertele-tele dan tidak ada calo menjadikan pelayanan yang maksimal dan mudah bagi seluruh masyarakat.
seperti yang disampaikan h. saharudin bahwa membayar pajak kendaraan melalui mobil samsat keliling ini jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan datang langsung ke kantor samsat atau melalui calo, karena tidak ada tambahan biaya yang dikenakan, sangat berbeda jika membayar dikantor samsat, prosesnya panjang, ribet dan banyak biaya administrasi yang dipungut.
setelah dikonfirmasi kepada staf desa samsudin yakub tentang keberadaan mobil samsat ini, beliau menyampaikan bahwa mobil samsat ini baru pertama kali datang ke desa pagutan, dan kedatangan selanjutnya belum dijadwalkan. hajri
Sekitar dua bulan lalu, kebanyakan
para petani di wilayah Batukliang khususnya di Desa Pagutan menentukan pilihan
untuk menanam padi kembali karena curah hujan kala itu bisa dikatakan masih tinggi.
Tak seperti musim taman tahun lalu, pada musim tanam ke-dua yang biasanya orang
Sasak menyebutnya Kebalit/Balit banyak yang menanam tembakau maupun tanaman
palawija seperti kedelai dan kacang tanah. Jika tidak menanam padi kembali hanya akan sia-sia. Hingga para petani
berharap akan mendapatkan hasil yang melimpah.
Namun harapan yang telah tertanam
dalam hati para petani tumbang dengan datangnya musim kemarau saat ini, hujan
tak kunjung turun hingga sepintas tanaman padi yang terhampat luas terlihat
menguning, namun itu bukan berarti sudah mau dipanen. Menguning karena
kekurangan air. Disaat padi baru saja mau keluar, tanah sudah kerontang dan
bahkan sudah retak-retak.
Seorang petani yang mengaalami
hal seperti ini adalah Kamarudin, petani asal Lembok dan ini memang benar.
Waktu saya berkeliling di sawah yang dia miliki, saya melihat lahan tempat
menanam padi sudah retak dan padipun
menguning. Hal Ini bukan dialami oleh satu petani saja, namun dialami oleh
Mahri yang lokasi sawahnya tak jauh dari sana. Apalagi yang memiliki sawah yang
berada di tempat yang lebih atas yang tidak terjangkau oleh aliran air melalui parit-parit
kecil.
Dengan keadaan seperti ini, para
petani terpaksa membeli air dengan harga yang relative mahal. Untuk mengairi satu
are para petani harus membeli dengan harga Rp. 4000. Jika memiliki satu Hektar
Are (Ha) maka petani harus mengeluarkan Rp. 400.000, Nominal yang cukup banyak
bagi para petani. Ini untuk satu kali pengairan, jika butuh tiga kali maka, otomatis
biaya makin banyak, belum lagi biaya untuk pupuk dan perawatan. Untuk
menanggulangi biaya, banyak para petani yang ngutang dahulu.
Jika pada tahun sebelumnya para
petani gagal panen gara-gara penyakit menyerang tanaman, sekarang petani
terancam gagal panen gara-gara kekurangan air. (Tamrin)
Alang-alang ! ya , tumbuhan liar sejenis rumput panjang yang biasanya tumbuh didaerah tandus dan perbukitan ini dulunya oleh masyarakat Lombok digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat atap rumah dan Das (sejenis tempat istirhat yang biasanya berada diarea persawahan) kini menjadi sebuah komoditi ekonomis bagi sebagian warga Desa Pagutan kec.Batukliang Kab.Lombok Tengah .
Tak tanggung-tanggung masyarakat desa Pagutan kini tengah gencar memasarkan alang-alang ke luar pulau Lombok bahkan hingga luar negeri seperti Malaysia dan negara tetangga lainnya. Adalah Aswadi salah seorang pengusaha alang-alang dari dusun lendang gocek mengaku telah 5 tahun berkecimpung didunia bisnis alang-alang ini , awalnya ayah satu anak ini bekerja sebagai seorang karyawan di pulau Dewata , dari pengalaman sebagai seorang karyawan inilah aswadi melihat peluang untuk berwirausaha menjadi seorang pebisnis professional .
Hingga kini berkat ketekunannya omset usaha alang-alang yang digelutinya mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah perbulannya seiring dengan permintaan pasar yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Johan
Hidup memang keras. Sekeras batu yang harus dilebur para kuli pemecah batu di Dusun Medas, Desa Bagu kecamatan Pringgarata Lombok Tengah. Lokasi Dusun itu terletak tidak jauh dari pertemuan tikungan jalan Medas Lombok tengah – Narmada Lombok Barat. Persis di sudut timur tikungan jalan di bawah tanjakan, ada areal seluas sekitar 5 meter persegi, menjadi tempat aktivitas buruh pemecah batu yang dimulai baru-baru ini yaitu sekitar 3 minggu lalu. Ada 8 pekerja dibawah “komando” Jaen (40 th) yang dikenal sebagai saudagar “batu”.
Bekerja keras menjadi rutinitas sehari-hari diantara tumpukan batu ukuran bongkahan hingga kerikil. Suara ketukan palu (hammer) yang menghajar bongkahan batu saling bersahutan. Semakin lama, suara itu semakin melemah seiring usia para “eksekutornya” yang kian uzur.
Inaq Mok misalnya (55 th), beliau tetap bertahan karena tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk mencari nafkah. Tangan keriputnya sejak pagi hingga sore hari mengayun palu untuk memperkecil ukuran batu dari bongkah menjadi kerikil. Bisa dibayangkan betapa lelahnya pekerjaan tersebut. “ ndek arak te gawek saq lainan, itung-itung ibadah,” tuturnya lirih mengungkapkan keterpaksanaanya bekerja keras untuk menyambung hidup.
Berat memang pekerjaan mereka. Batu kerikil yang sudah dipecah-pecah diupah Rp 750/ ember (ukuran sedang) dari sang bos. Sedangkan jumlah pengeluaran satu hari saja masih sangat jauh atau belum mencukupi dengan jumlah pemasukan yang didapat. Jumlah yang mereka hasilkan rata-rata 5-6 ember perhari. Bisa dihitung setiap harinya mereka hanya menghasilkan Rp. 3.750 sampai Rp. 4.500/hari. Sungguh tidak sebanding dengan usaha dan kerja keras yang dilakukan. (uyun)








