Judul di atas mungkin sudah biasa kita baca bahkan kita dengar , lalu timbul pertanyaan apa dan dimana akarnya ? kita boleh mengatakan Edi Tansil koruptor no 1 diindonesia dan tak salah menyatakan gayus tambunan seorang mafia pajak , serta sederet anggota legislative terlibat kasus korupsi.
Banyak kalangan berharap agar para koruptor dihukum setimpal dengan perbuatannya naasnya lagi ada wacana untuk menghukum koruptor dengan hukuman mati , alih-alih terbentur dengan HAM (Hak asasi Manusia) dan faham agama yang tak menghendaki hukum mati .
Jika kita ingin berfikir lebih cerdas tanpa mengabaikan hal-hal diatas , alangkah bijaknya jika bersama-sama mengkaji lebih mendalam soal KORUPSI , secara harfiah korupsi berarti RUSAK , apa yang rusak ? jawabannya sederhana POLA FIKIR ! kita awali dengan sebuah contoh sederhana tentang pola fikir ,ketika kita meminta tanda tangan untuk pembuatan surat-surat didesa selalu ada pertanyaan …..berapa biayanya ? padahal belum ada ketentuan yang jelas bahwa sebuah tanda tangan patut dihargai dengan uang , ada yang berdalih harus membayar administrasi. Padahal biaya administrasi jelas-jelas sudah dianggarkan dalam APBDes dalam bentuk ATK , lalu administrasi macam apa yang harus dibayar ? dalam kasus ini kita sebagai terlayan dan petugas desa sebagai pelayan selayaknya mengubah mainset kita soal bayar membayar , jika tidak ada ketentuan jelas soal tarif TANDA TANGAN maka haram hukumnya dan jika dilakukan itu adalah tindak pidana korupsi.Johan
Suatu malam di dusun Lembok Lauk Desa Pagutan , tepatnya pukul 22:00wita terdengar jelas suara gebukan gendang dengan paduan beberapa instrument lainnya membuat tubuh setiap orang yang mendengarnya ingin bergoyang .
Di sebuah halaman kecil tampak sekerumun orang yang tengah asyik memanjakan mata menyaksikan lenggokan tubuh seksi wanita muda mengenakan kebaya diiringi lantunan lagu-lagu sasak popular, pemandangan seperti ini mungkin bagi sebagian masyarakat Lombok merupakan hal yang sudah lumrah.
Ya , joget sudah menjadi tradisi yang cukup unik dilombok terutama ketika salah seorang warga mempunyai hajatan , entah itu acara pernikahan , acara adat bahkan ritual keagamaan tidak luput dari kemeriahan be”JOGED”an .
Pertanyaan sederhana apakah dalam kebudayaan sasak jogged ini ada dalam tradisi nenek moyang kita dulu ? jika ada apa batasannya dan jika tidak mengapa dilestarikan ? Parahnya lagi tontonan semacam jogged ini ternyata diminati dan ditunggu oleh anak-anak dibawah umur.
Mau dibawa kemana adat sasak Lombok ? bukankah Sasak Lombok artinya sesuatu yang lurus ? Lalu apa upaya kita untuk meluruskan kebiasaan menyimpang ini ? kita patut acungkan jempol bagi orang-orang yang bersikukuh untuk tidak memberikan kesempatan untuk menggelar acara jegedan, karena masih banyak dusun-dusun yang higga saat ini anti terhadap jogged.
Lalu dimana peran lembaga-lembaga adat sasak ?
Kita mengenal MAS (Majelis Adat sasak) sudah saatnya cepat tanggap terhadap persoalan adat diakar rumput , tidak hanya sibuk dengan kegiatan-kegiatan semacam seminar atau hanya cuap-cuap di berbagai media semata , negeri ini butuh tindakan cepat dan akurat . Johan
Setelah melaksanakan ujian nasional untuk pertama kalinya pada tahun 2012 ini, siswa siswi MI dan MA an-nazhar yang berada dibawah naungan yayasan ponpes jam'ussyahidin pagutan mengadakan acara tsyakkuran dan perpisahan bersama wakil bupati lombok tengah bapak Normal Suzana dan masyarakat pagutan.
Acara yang dirangkai dengan kegiatan nonton bareng pada malam sebelumnya ini berlangsung meriah dan tentu saja memiliki kesan yang mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat, terlihat jelas nuansa kebersamaan dan partisipatif dari seluruh elemen mulai dari wali murid, tokoh agama, tokoh masyarakat, kadus sampai dengan pemerintah kecamatan.
Acara yang dimulai pukul 09.00 wita pada hari kamis (21 Juni 2012) kemarin, bertujuan untuk menjalin silaturrahmi antar seluruh lapisan masyarakat serta untuk memotivasi siswa-siswi agar lebih semangat dalam belajar, selain itu juga diberikan tips untuk menjalani hidup dengan lebih baik. sebagaimana yang disampaikan oleh TGH. Fauzan mustafa dalam sambutannya,
sedangkan wakil bupati menyampaikan tentang kondisi pendidikan di kabupaten lombok tengah yang masih rendah sebagai motivasi bagi seluruh lapisan masyarakat agar lebih berbenah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kabupaten lombok tengah. (hajri)
Salah satu indicator kesuksesan sebuah program yang dicanangkan pemerintah adalah terciptanya mutu pelayanan yang berkualitas , karena akan berdampak positif pada masyarakat yang dilayani. Untuk itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab setiap lembaga pemerintah untuk terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan.
Setidaknya itulah yang sedang diupayakan oleh pihak Puskesmas AIK DAREK yang terletak di Kec.Batukliang Kab.Lombok Tengah , Kepala Puskesmas AIK DAREK Ibu Erma Wahyuni S.KM mengakui jika saat ini pihaknya belum mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat secara luas karena beberapa faktor antara lain manajemen puskesmas yang belum tertata dengan baik , selain itu masyarakat penerima layanan yang masih belum memahami makna pelayanan yang baik secara komperhensif juga menjadi kendala bagi pihak puskesmas.
“ Mulai bulan juni 2012 ini kami sudah melakukan penataan manajemen dengan melibatkan 5 pustu dan poskesdes sekecamatan batukliang “ungkapnya.
Ketika ditanya soal keberadaan poskesdes , ibu muda dengan kawat gigi ini menyatakan siap menerima laporan dan keluhan masyarakat tentang pelayanan kepada para ibu hamil dan bersalin , ia berharap agar para petugas baik di Puskesmas , Pustu maupun di Puskesdes agar lebih intensif memberikan sosialisasi tentang pelayanan kepada masyarakat agar nantinya masyarakat dapat memahami dan mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Johan
Setelah sekian lama mendambakan layanan pajak kendaraan bermotor (samsat) yang mudah, murah dan tidak ribet, tepatnya pada hari senin, 18 Juni 2012 kemarin pada jam 8.30 wita, masyarakat desa pagutan dikunjungi oleh mobil samsat keliling, tentu saja keberadaan mobil samsat ini sangat membantu masyarakat dalam membayar pajak kendaraan bermotor yang dimilikinya.
Sedikitnya sekitar 30an orang datang untuk membayar pajak kendaraan bermotor pada mobil samsat keliling tersebut, mobil samsat keliling ini tentu saja sangat membantu dan memudahkan masyarakat pagutan dalam membayar pajak kendaraan karena untuk lokasi kantor samsat praya sangat jauh dari desa pagutan sekitar 23 km, sehingga banyak masyarakat yang memanfaatkan jasa calo yang tentu saja menambah biaya pajak itu sendiri.
selain itu keberadaan mobil samsat ini juga memangkas sistim birokrasi ketika membayar pajak seperti yang dikantor samsat, karena pelayanannya yang tidak bertele-tele dan tidak ada calo menjadikan pelayanan yang maksimal dan mudah bagi seluruh masyarakat.
seperti yang disampaikan h. saharudin bahwa membayar pajak kendaraan melalui mobil samsat keliling ini jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan datang langsung ke kantor samsat atau melalui calo, karena tidak ada tambahan biaya yang dikenakan, sangat berbeda jika membayar dikantor samsat, prosesnya panjang, ribet dan banyak biaya administrasi yang dipungut.
setelah dikonfirmasi kepada staf desa samsudin yakub tentang keberadaan mobil samsat ini, beliau menyampaikan bahwa mobil samsat ini baru pertama kali datang ke desa pagutan, dan kedatangan selanjutnya belum dijadwalkan. hajri
Sekitar dua bulan lalu, kebanyakan
para petani di wilayah Batukliang khususnya di Desa Pagutan menentukan pilihan
untuk menanam padi kembali karena curah hujan kala itu bisa dikatakan masih tinggi.
Tak seperti musim taman tahun lalu, pada musim tanam ke-dua yang biasanya orang
Sasak menyebutnya Kebalit/Balit banyak yang menanam tembakau maupun tanaman
palawija seperti kedelai dan kacang tanah. Jika tidak menanam padi kembali hanya akan sia-sia. Hingga para petani
berharap akan mendapatkan hasil yang melimpah.
Namun harapan yang telah tertanam
dalam hati para petani tumbang dengan datangnya musim kemarau saat ini, hujan
tak kunjung turun hingga sepintas tanaman padi yang terhampat luas terlihat
menguning, namun itu bukan berarti sudah mau dipanen. Menguning karena
kekurangan air. Disaat padi baru saja mau keluar, tanah sudah kerontang dan
bahkan sudah retak-retak.
Seorang petani yang mengaalami
hal seperti ini adalah Kamarudin, petani asal Lembok dan ini memang benar.
Waktu saya berkeliling di sawah yang dia miliki, saya melihat lahan tempat
menanam padi sudah retak dan padipun
menguning. Hal Ini bukan dialami oleh satu petani saja, namun dialami oleh
Mahri yang lokasi sawahnya tak jauh dari sana. Apalagi yang memiliki sawah yang
berada di tempat yang lebih atas yang tidak terjangkau oleh aliran air melalui parit-parit
kecil.
Dengan keadaan seperti ini, para
petani terpaksa membeli air dengan harga yang relative mahal. Untuk mengairi satu
are para petani harus membeli dengan harga Rp. 4000. Jika memiliki satu Hektar
Are (Ha) maka petani harus mengeluarkan Rp. 400.000, Nominal yang cukup banyak
bagi para petani. Ini untuk satu kali pengairan, jika butuh tiga kali maka, otomatis
biaya makin banyak, belum lagi biaya untuk pupuk dan perawatan. Untuk
menanggulangi biaya, banyak para petani yang ngutang dahulu.
Jika pada tahun sebelumnya para
petani gagal panen gara-gara penyakit menyerang tanaman, sekarang petani
terancam gagal panen gara-gara kekurangan air. (Tamrin)
Alang-alang ! ya , tumbuhan liar sejenis rumput panjang yang biasanya tumbuh didaerah tandus dan perbukitan ini dulunya oleh masyarakat Lombok digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat atap rumah dan Das (sejenis tempat istirhat yang biasanya berada diarea persawahan) kini menjadi sebuah komoditi ekonomis bagi sebagian warga Desa Pagutan kec.Batukliang Kab.Lombok Tengah .
Tak tanggung-tanggung masyarakat desa Pagutan kini tengah gencar memasarkan alang-alang ke luar pulau Lombok bahkan hingga luar negeri seperti Malaysia dan negara tetangga lainnya. Adalah Aswadi salah seorang pengusaha alang-alang dari dusun lendang gocek mengaku telah 5 tahun berkecimpung didunia bisnis alang-alang ini , awalnya ayah satu anak ini bekerja sebagai seorang karyawan di pulau Dewata , dari pengalaman sebagai seorang karyawan inilah aswadi melihat peluang untuk berwirausaha menjadi seorang pebisnis professional .
Hingga kini berkat ketekunannya omset usaha alang-alang yang digelutinya mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah perbulannya seiring dengan permintaan pasar yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Johan
Hidup memang keras. Sekeras batu yang harus dilebur para kuli pemecah batu di Dusun Medas, Desa Bagu kecamatan Pringgarata Lombok Tengah. Lokasi Dusun itu terletak tidak jauh dari pertemuan tikungan jalan Medas Lombok tengah – Narmada Lombok Barat. Persis di sudut timur tikungan jalan di bawah tanjakan, ada areal seluas sekitar 5 meter persegi, menjadi tempat aktivitas buruh pemecah batu yang dimulai baru-baru ini yaitu sekitar 3 minggu lalu. Ada 8 pekerja dibawah “komando” Jaen (40 th) yang dikenal sebagai saudagar “batu”.
Bekerja keras menjadi rutinitas sehari-hari diantara tumpukan batu ukuran bongkahan hingga kerikil. Suara ketukan palu (hammer) yang menghajar bongkahan batu saling bersahutan. Semakin lama, suara itu semakin melemah seiring usia para “eksekutornya” yang kian uzur.
Inaq Mok misalnya (55 th), beliau tetap bertahan karena tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk mencari nafkah. Tangan keriputnya sejak pagi hingga sore hari mengayun palu untuk memperkecil ukuran batu dari bongkah menjadi kerikil. Bisa dibayangkan betapa lelahnya pekerjaan tersebut. “ ndek arak te gawek saq lainan, itung-itung ibadah,” tuturnya lirih mengungkapkan keterpaksanaanya bekerja keras untuk menyambung hidup.
Berat memang pekerjaan mereka. Batu kerikil yang sudah dipecah-pecah diupah Rp 750/ ember (ukuran sedang) dari sang bos. Sedangkan jumlah pengeluaran satu hari saja masih sangat jauh atau belum mencukupi dengan jumlah pemasukan yang didapat. Jumlah yang mereka hasilkan rata-rata 5-6 ember perhari. Bisa dihitung setiap harinya mereka hanya menghasilkan Rp. 3.750 sampai Rp. 4.500/hari. Sungguh tidak sebanding dengan usaha dan kerja keras yang dilakukan. (uyun)
Untuk menghadapi Tahun Pelajaran
baru 2012/2013, SMPN 2 Batukliang mengadakan IHT (In House Trining) yang
diikuti oleh 34 orang guru selama tiga hari kedepan yang dimulai sejak hari ini
(11/06/12). Menurut Ketua Panitia Abhar, S.Pd, kegiatan ini bertujuan untuk
meningkatkan mutu peserta didik dengan cara meningktkan profesionalisme tenaga
pendidik.
Dalam kegiatan ini dilaksanakan penyusunan
perangkat pembelajaran seperti Silabus, RPP, penetapan KKM, dan program lainnya
yang berkaitan dengan proses belajar mengajar di kelas dengan menonjolkan pembelajaran
berbasis TIK yaitu Kegiatan Pembelajaran yang dilaksanakan dengan
memamfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Sedangkan yang menjadi nara sumber adalah dari SMPN 2 Batukliang sendiri yaitu Ll.Aminullah, S.Pd. M.Pd. selaku Kepala Sekolah, wakil Kepsek Kurikulum Abhar, S.Pd. dan dua pantia lainnya yaitu Muhaemin, S.Pd. dan Zainudin, S.Pd. Kegiatan ini dilaksanakan dari pukul 08.00-13.05 WITA dengan mengalokasikan dari dari program BOS. Tamrin
Bisa mempererat tali silaturrahmi
dengan anggota komunitas Kampung Media, terutama yang ada di Lombok Tengah merupakan salah satu tujuan terbentuknya media
online yang berorientasi pada penyebarluasan informasi bagi masyarakat luas,
selain itu juga bertujuan untuk share pengetahuan, saling mengisi, serta saling
melengkapi.
Tepatnya hari minggu (10/6/12)
sekitar pukul 11.00 admin Kampung Media Al-Hikmah Khocet, untuk pertamakalinya
bisa hadir ke sekretariat Km-Kaula yang berada di Desa Wisata Mas-Mas
Batukliang Utara. Walaupun berada di daerah yang tidak terlalu jauh dari
Pagutan tempat sekretariat KM-Al-Hikmah, namun saya hampir saja tersesat,
karena saya memang tidak terlalu kenal wilayah di Batukliang Utara. Namun
untung saja masih ada HP yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan cepat. Akhirnya
saya merasa tujuan yang akan saya kunjungi telah berada di depan mata setelah
melihat pinil besar bertuliskan “Sekretarist
Bersama Kemus Loteng, Village Based Tourism (VBT)” yang merupakan sekretariat KM
Kaula juga. Dan ternyata memang benar, disana telah menunggu Motivator KM-Kaula H.Abdurrahman beserta empat teman lainnya (H.Sahrim, Ulil Azmi, Ayu Payani, dan
Suhartini). Sambutan yang begitu hangat.
Beberapa menit istirahat,
kemudian saya dan teman-teman KM-Kaula mulai mengaktifkan laptop dan modem,
bersama belajar tentang hal-hal yang berkaitan tentang blog. Baik cara
memposting ataupun cara mengedit tulisan yang mau di publish yang berupa tulisan
ataupun gambar, maupun cara mengedit HTML seperti menambah menu blog. Selain
itu juga kami belajar tentang dasar-dasar mengedit photo/gambar menggunakan Adobe
Photoshop, sekedar untuk keperluan blog. Antusias dari teman-teman yang ada di
Kaula patut diacungi jempol, karena waktu belajar bersamapun mereka menyediakan
LCD Proyektor layaknya sebuah pelatihan yang begitu formal.
Keasikan kami tak terasa, waktu
bergulir begitu cepat, terus melaju hingga waktu menunjukkan pukul 16.00. Setelah
shalat asar, saya mengajak teman Kaula untuk berkeliling di desa yang mendapatkan
julukan Desa Wisata. Ingin rasnya melihat langsung panorama alam Mas-Mas dari
dekat, bukan hanya sekedar cerita. Ingin melihat pemandangan Mbung Dao,
kerajinan anyaman ketak masyarakat setempat, dan hal-hal lain yang bisa menarik
wisatawan asing datang ke Mas-Mas.
Namun sayang, waktu yang terasa begitu pendek membuat saya dan teman Kaula tidak bisa menikmati semuanya, saya hanya bisa menikmati riak kecil Mbung Dao, pemandangan sawah nan hijau dan aktifitas warga yang memanfaatkan keberadaan Mbung Dao. Sekitar pukul 18.00, bersama hawa dingin yang terasa, langit barat sudah mulai terlihat keemasan, matahari tampak sudah lesu di langit Mas-mas, sayapun pamit dengan satu harapan bisa kembali lagi menikmati Mas-Mas. Tamrin









